![]() |
| Puncak Cikuray |
Perjalanan dimulai dari kota tempat asal kita yaitu Ciamis. Saya sendiri berangkat dari rumah sekitar jam 9 pagi dan langsung ke rumah teman saya yang bernama Yusup, disana kita packing ulang barang barang kita.
Belum apa-apa muncul-lah sedikit masalah saat itu, dari rencana kita berangkat 5 orang menjadi hanya 3 orang. Dan parahnya lagi teman kita yang satu ngasih kabarnya 5 menit kita sebelum berangkat. Rencana kita berangkat paling telat jam 12 siang, ngaret sampe jam 3 sore. Dan mau tidak mau kita tetap membawa perbekalan untuk 5 orang itu, karena tidak ada waktu lagi buat packing ulang. Alhasil sangatlah berat ransel kita.
![]() |
| Terminal Rancabango Tasikmalaya |
Karena ada acara ngaret tadi, sampailah kita di Dayeuh Manggung Garut pada pukul 7 malam. Dayeuh manggung adalah jalur yang paling populer bagi pendaki Gunung Cikurai, karena jalur tersebut telah dilengkapi dengan penunjuk arah dan pos-pos untuk beristirahat.
Malam itu juga kami memutuskan untuk start mendaki. Dengan iringan rintik hujan dan tiupan angin malam, maka dimulailah perjalanan kita yang sebenarnya.
Damn.. lagi-lagi terjadi kebodohan, ketika kita mau berangkat lalu kedua teman saya membuka ranselnya untuk membawa jas hujan, saya baru ingat saya lupa tidak membawa jas hujan, dan akhirnya saya berangkat tanpa jas hujan menuju pos pendaftaran di tower pemancar tv di kawasan perkebunan teh, sekitar 7 km dari Dayeuh Manggung.
Di tengah perjalanan karena hujan yang semakin lebat dan lelah yang semakin terasa, kita terpaksa berteduh di sebuah rumah panggung yang sederhana. Kami pun mengetuk pintu untuk sekedar meminta izin untuk berteduh disana.
Krekkk pintu dibuka, tampaklah senyuman seorang bapak yang kira-kira berumur 60-70 tahun-an. Tanpa berpikir apapun, bapak itu pun langsung dengan senang hati mempersilahkan kita untuk masuk kedalam rumahnya. Tak lama istrinya menghampiri dengan membawa teh hangat. Ramah, baik, murah senyum, seakan akan kita adalah cucu yang sedang mereka mereka manjakan. Kita pun membuka perbekalan kita untuk mengisi kembali energi untuk melanjutkan perjalanan. Nasi timbel, telur dadar dan tahu adalah menu kita dimalam itu.
Ketika jarum jam menunjuk pada jam 9 malam kita memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Karena keramah-tamahan sang kakek dan nenek, kita memberikan sedikit rasa ucapan terima kasih dengan memberikan sebagian logistik kami, di sisi lain itu sedikit membantu kami, karena logistik kita sangat berlebih karena 2 orang teman kita yang tidak jadi ikut.
Setelah bersiap dan mengencangkan kembali tali carrier kami, jam 9.45 kita pun melanjutkan perjalanan, dengan rintik hujan yang masih belum menampakan ciri-ciri akan reda. Rumah tadi merupakan rumah terakhir penduduk, setelah itu itu fungsi dari senter mulai di pergunakan.
Gelap, kedinginan dan lelah, hanya itu yang ada di pikiran kita.
Sekitar setengah jam dari rumah penduduk tadi hujan pun mulai meninggalkan kita, hamparan perkebunan teh menjadi sajian perjalanan malam kita., kabut pun semakin menghilang, tampak lah kelap-kelip lampu dari kota Garut. Itu sedikit menghilangkan rasa lelah, kita pun berhenti sejenak untuk menikmati pemandangan sembari meneguk air teh hangat yang diberikan dari penduduk tadi.
tunduh euy, isuk kuliah pagi. ke dilanjut nya cerita na.



0 komentar:
Posting Komentar
You can request movies that you want here
Anda bisa request film yang anda inginkan disini